PERMUDAHLAH URUSAN ORANG LAIN
Oleh : Herdian, S.Pd.
Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat”. (HR. Muslim)
Musa berlari ketakutan meninggalkan kota Memphis karena ia telah memukul seorang pengikut Fir’aun hingga meninggal. Ia pergi meninggalkan kota itu dengan rasa takut sekaligus waspada kalau-kalau ada yang menyusul atau menangkapnya. Setelah berlari beberapa lama, tibalah Musa di sebuah negeri bernama Madyan. Kemudian Musa berjalan menuju sumber air untuk mendapatkan setetes air untuk membasahi kerongkongannya.
Sesampainya di sumber air negeri Madyan, Musa tertegun menyaksikan orang-orang berdesakan menuju sumber air. Mereka adalah laki-laki pengembala yang berebut air untuk memberi makan ternak-ternak mereka. Tidak jauh dari tempat Musa berdiri, dilihatnya dua orang perempuan tidak kunjung mendapatkan giliran untuk dapat memberi minum hewan ternak mereka.
Dalam keadaan tertimpa masalah yang sangat pelik– jika ia tertangkap oleh tentara pembesar kota Memphis maka ia pasti dibunuh—ia memutuskan membantu kedua perempuan itu bukannya lari secepat dan sejauh mungkin meninggalkan tempat itu. Ia menerobos kerumunan laki-laki pengembala yang sedang memberi minum ternak mereka, hingga ternak milik kedua perempuan itu dapat minum dengan puas.
Setelah Musa selesai membantu mereka memberi minum ternak-ternak mereka, kedua perempuan itu pun berpamitan pulang. Sesampainya di rumah, kedua perempuan itu menceritakan kepada ayah mereka apa yang telah mereka alami tadi di mata air Madyan. Kemudian ayah mereka berkata kepada salah seorang diantara mereka, untuk mengundang laki-laki yang telah membantu mereka untuk menemui ayahnya.
Bersamaan dengan pulangnya kedua perempuan itu, Musa pun kembali ke tempat teduh, tempat ia mengamati orang-orang yang memberi minum ternaknya. Musa teringat kembali perkataan seorang laki-laki di kota Memphis “Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu …”( QS. Al-Qashash: 20).
Dalam keadaan takut dan kelaparan, Musa lalu berdoa kepada Allah “ Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan padaku” (QS. Al-Qashash: 24).
Tidak lama kemudian, datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan yang ditolongnya tadi, berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu membantu memberi minum ternak kami.”
Musa mengikuti perempuan tadi menuju rumahnya. Ketika Musa telah sampai di rumah perempuan tadi, dia menemui ayah dari kedua perempuan itu yang tak lain adalah Nabi Syu’aib. Musa pun menceritakan kisahnya kepada Nabi Syu’aib. Nabi Syu’aib berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang zalim itu” (QS. Al-Qashash: 25).
Salah seorang anak perempuan dari Nabi Syu’aib berkata, “Wahai ayahku, jadikanlah ia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).
Nabi Syu’aib berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini” (QS. Al-Qashash: 27).
Akhirnya Nabi Musa mendapatkan pertolongan dari Nabi Syu’aib dan sekaligus mendapatkan anaknya untuk dijadikan istri hanya karena beliau telah membantu anak perempuannya memberi minum hewan ternak mereka.
***
Saudaraku yang disayangi Allah, itu adalah sebuah kisah tentang seorang Nabi Musa as. Sebuah kisah yang syarat makna, yang telah Al Quran abadikan dalam surat Al-Qashash. Kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran dari kisah Nabi Musa as. Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa sebagai umat islam kita harus saling tolong menolong, bahkan untuk orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun.
Musa tidak mengenal kedua perempuan itu. Mereka bukan sanak familinya. Namun Musa telah membantu meraka dengan penuh keikhlasan. Apa yang telah dilakukan Musa, dengan membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah, telah membantu dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalah pribadinya. Musa telah mendapatkan perlindungan dari ayah kedua perempuan itu dari pencarian pembesar negeri Memphis yang akan membunuhnya. Bahkan bukan hanya itu, Musa pun ditawari untuk menikahi salah satu dari dua orang anak perempuannya.
Saudaraku yang dicintai Allah, seringkali Allah memberi kepada hamba-hamba-Nya yang berjiwa penolong dan yang memudahkan urusan orang lain, balasan yang melebihi apa yang dibayangkan oleh hamba-Nya itu. Mungkin masing-masing dari kita pernah mengalami sendiri pengalaman yang hampir sama dengan kisah Nabi Musa.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat” (HR. Muslim).
Wallahua’lam bi showab.
Bandung, 09 Februari 2009
